Jawabannya, tidak mungkin ? Jika setiap partai diberi kebebasan ikut kereta siapa, dapat dipastikan minimal ada 28 partai yang ikut kereta SBY dengan perolehan suara sementara sekitar 73,70%. Kereta lain yang dinaiki oleh Mega, Prabowo dan Wiranto, beserta 7 partai lain tentu terseok pada angka 26,30%. Bahkan, dari posisi angka ini SBY boleh jadi mampu mendulang suara sekitar 80%, karena faktor nilai tambah yang dihasilkan oleh daya tarik pribadinya, him self.
Cobalah naik taxi di Jakarta, Surabaya, Medan, bahkan Ujungpandang, hanya diperlukan sedikit waktu untuk membuat sopir menjawab pelan dan agak tertahan di tenggorokan, sebelum akhirnya tegas memilih SBY. Parikan atau pantunnya : “teklek kecemplung kali, timbang golek aluwung bali”, atau “ikan teri balado ampela, dari pada cari pilih saja yang ada”.
Akbar Tanjung dan Marwah Daud Ibrahim
Apakah masih ada celah mengalahkan SBY ? Jujur saja dikatakan, celah itu sangat kecil. Tapi, sekecil apapun, toh celah itu tetap ada. Polanya, setelah P Golkar memisahkan diri, PAN dan PPP harus berani berada di luar kereta SBY. Inkumben tinggal didukung 13 partai dengan suara sekitar 40,30%, melawan JK/Wiranto dan Mega atau Prabowo plus PAN dan PPP, katakanlah kedua bakal pasangan calon ini sama besar suaranya, sekitar 27,50%.
Di sini SBY menghadapi komplikasi masalah bacawapres, apakah dari professional non-partisan, seperti Budiono atau Kuntoro, yang mudah diperdayai dan mengecewakan PKS, atau memilih HNW (Hidayat Nur Wahid) yang terlanjur dicap ekstrem kanan yang mengundang sakwasangka. Apakah benar SBY berani memerintah hanya didukung oleh partai sekelas PD, PKS, PKB dan PBB ? Peluang AT (Akbar Tanjung) belum tertutup sama sekali, karena sekurangnya separo kader PG otomatis akan melakukan reposisi ikut pasangan yang disangka menang.
JK/W memang sudah melenggang, dan hanya menghadapi tantangan bila AT yang dipilih SBY sebagai cawapres. Lain halnya dengan Mega atau Prabowo. Kepresidenan Mega tentu akan menimbulkan persoalan internal di PPP terkait dengan isu presiden perempuan. Sementara bagi PAN dan PPP, tampaknya tidak mempersoalkan posisi capres untuk Prabowo, bahkan bisa menerima bila portofolio cawapres berada di tangan PDI-P. Apakah Puan Maharani telah “cukup usia” untuk jabatan setinggi itu, atau diupayakan kompromi komprehensif dengan mengambil cawapres dari luar, Marwah Daud Ibrahim, misalnya. Tokoh yang disebut terakhir ini memiliki akses yang cukup signifikan dalam lingkaran terkecil politisi dan keluarga Prabowo.
Lonceng kekalahan
Dalam konstelasi pasangan calon, SBY, JK/W dan Mega atau Prabowo, jika tidak muncul perlawanan yang siginifikan, maka besar kemungkinan SBY akan sekali lari, meraih pemilih 50% plus. SBY sudah teramat pede, bahkan tidak merasa terpanggil untuk bicara tentang ide dan konsep. BLT yang banyak dikecam oleh kalangan menengah, terbukti cukup ampuh memikat hati pemilih mayoritas yang berada di kalangan bawah. Selama dua bulan kampanye pilpres BLT musti dikucurkan terus, jika mungkin ditambah dengan BL saprotan dan BL-BL lain yang sudah memperoleh persetujuan DPR.
JK/W rupanya lebih konsentrasi pada pembangunan jaringan partai pendukung, dengan target masuk putaran kedua, dengan harapan akan memperoleh dukungan dari Mega atau Prabowo bila mereka gagal masuk putaran kedua. Faktor Mega akan lebih berpusar pada jaringan partai, sementara Prabowo akan tetap menjadi kuda binal dan semakin binal dalam kampanye ide dan konsep ekonomi kerakyatan. Tematik “Hanya Prabowo Yang Bisa” boleh jadi akan membombardir masyarakat pemilih dengan harapan-harapan baru yang –sepertinya-- begitu dekat dan bisa diraih.
Kemungkinan tetap saja Pilpres akan berlangsung dalam 1x putaran. Hanya kekosongan ide dan konsep dalam kampanye yang merapuhkan SBY dari serangan kampanye ide dan konsep Prabowo yang fenomenal. Jika pilpres berlangsung 2x putaran, maka lonceng kekalahan SBY baru saja didentangkan.
Jakarta, 7 Mei 2009
Penulis,Panel Ahli VOX POPULI
